Posts

Elokuensi al Qur’an dalam Pengajian Dr. Ibrahim Hud-hud

Image
Selasa, 9 Agustus, 2016, Dr Ibrahim Hud-hud kembali membuka talaqqi tafsir dengan membaca Durrat al Ta’wil” Karya al Iskafi sebagai acuannya. Pengajian ini kembali dibuka setelah beberapa bulan vakum lantaran kesibukan Dr Hud-hud sebagai Rektor baru Universitas al Azhar. Dihadiri oleh para beberapa peserta lama dan sejumlah anggota baru pengajian ini pun dimulai dengan membaca basmalah. Tidak seperti bulan-bulan lalu, pengajian yang concern terhadap elokuensi al Qur’an ini memakai Durrat al Ta’wil” Karya al Iskafi, kendati kitab “ milâk al ta’wil” karya al Ghirnathi belum mencapai akhir halamannya, kitab inipun disudahi seakan ingin mencari suasana baru dan menengok referensi aslinya [1] .

Kembang Tidur; Filsafat Mimpi dalam Varian Kewahyuan

Image
Anzuru Wahyan Q Kembang tidur atau mimpi adalah fenomena imajinasi yang dapat ditemukan dalam tidur manusia. Menilik saratnya kejadian ini dalam kehidupan manusia berbagai disiplin keilmuan turut andil dalam memberikan kontribusi interpretasi fenomen itu. Sebut saja ilmu Psikologi, Religi, filsafat, ilmu Santet dan ilmu perdukunan. Kesemua ilmu-ilmu tersebut membahas mimpi dengan keistimewaannya masing-masing, tetapi keseluruhannya sepakat jika fenomena tersebut mempunyai pengaruh dalam realita kemanusiaan.

Politik Kyai dalam Kaca-mata Tuan Guru Munajib Khalid

Image
*Tulisan ini hanya cuplikan dari buku “ Islam Agamaku, Indonesia Kebangsaanku”. Memahami keterlibatan tuan guru/kyai dalam politik praktis Tuan guru adalah panggilan kehormatan bagi seorang tokoh agama Islam di Pulau Lombok. Figure panutan umat Islam ini sangat konsen terhadap berbagai perkembangan dan permaslahan umat. Dari hal-hal bersifat privat sampai hal-hal yang bersifat kenegaraan. Itulah yang menyebabkan akhir-akhir ini pemikiran seorang figure panutan umat ini tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat local saja, bahkan sudah mulai berfikir terhadap hal-hal yang bersifat universal. Itulah sebanya, kita tidak perlu heran dengan banyaknya Tuan Guru yang terjun dalam kancah pollitik praktis karena ini juga merupakan tuntunan ajaran agama Islam yang universal.

Esensi-esensi Hukum

Anzuru Wahyan Q Mengkaji ushul fiqh berarti kita telah masuk ke dalam ruang yang sarat dengan berbagai hukum dan  masalah didalamnya. Hukum yang berarti “khitab (kalam) Allah Swt yang mengatur amal perbuatan mukallaf,” ternyata masih meninggalkan sejumlah pertanyaan yang harus kita tuntaskan. Siapakah sumber dan pembentuk hukum itu? Kepada siapakah hukum tersebut ditujukan? Dan perbuatan apakah yang sebenarnya dihukumkan? Pertanyaan-pertanyaan fundamental tersebut telah mengajak para ulama untuk mengkaji sehingga banyak menimbulkan perdebatan yang cukup hangat di dalam sejarah islam. Tak dapat dipungkiri, perdebatan dan tradisi kritik itulah yang turut andil dalam mencerahkan pemikiran islam. Maka seyogianya bagi kita sebagai pewaris tunggal mereka, membawa kembali masa lalu yang telah memudar di kalangan umat muslim ini. Maka dari itu penulis mengundang para pembaca untuk menjadi bagian dalam “Esensi-esensi fundamental di dalam hukum.”

Mitologi al Qur’an; Pro dan Kontra

Image
Hampir tiada satupun kitab suci suatu agama yang tidak mencantumkan cerita dan epos. Nampaknya kisah-kisah itu memainkan peran signifikan dalam teologi dan perkembangan jurisprudensinya. Hal ini sangat kentara jika merujuk Taurat atau Perjanjian Lama yang sejumlah besarnya dialokasikan untuk informasi sejarah dan riwayat hidup nabi-nabi bangsa Israel pra nabi Musa As dan setelahnya. Sebab itu, memahami Yahudi sebagai suatu kepercayaan takkan terwujud tanpa membaca terlebih dahulu sejarah dan riwayat hidup bangsa Yahudi itu sendiri karena pada kenyataannya teologi Yahudi adalah kompilasi dan konklusi dari peristiwa-peristiwa yang menemani kehidupan bangsa tersebut. [1]

Mukjizat al Qur'an; Stabilisasi dan Varian

Image
Setiap muslim, yang mengaku muslim, dan sebagian yang bukan muslim pasti mengenal al Qur’an. Kitab suci agama Islam tersesbut diklaim sebagai mukjizat nabi Muhammad Saw yang abadi tak lekang oleh waktu. Semenjak kecil anak-anak Islam telah didoktrin tentang varian mukjizat Rasulullah Saw. beliau diyakini telah dianugerahkan Tuhan dengan dua varian Mukjizat; mukjizat abadi atau al Qur’an, dan mukjizat temporal atau mukjizat-mukjizat inderawi yang tinggal dongeng belaka. Mukjizat-mukjizat inderawi ini pada umumnya dimiliki oleh setiap nabi dan rasul, tetapi hanya Nabi Saw saja yang diistimewakan dengan mukjizat abadi. Ini adalah suatu kebanggan bagi beliau dan umatnya, jika nabi-nabi lain dianugerahkan mukjizat inderawi, Rasulullah justeru dianugerahkan mukjizat ilmiah, suatu mukjizat yang dapat disadari hanya oleh orang berilmu, mukjizat yang memantik kesaktian akal, mukjizat yang tak terbendung keajaibannya.

Teori Superioritas Tafsir bi'l ma'tsur

Image
Sebagian besar ulama mutakhir mengklaim superioritas tafsir jenis ini, pandang mereka tak ada alasan bagi seorang penafsir untuk menghiraukannya. Lalu sejatinya apakah tafsir bi'l ma'tsur ini? Sejauh yang kita dapati tafsir jenis ini adalah penafsiran yang mengandalkan kejelasan al quran atau al hadits untuk setiap teks al quran yang hendak ditafsirkan. Dengan dalih kebersumberannya melalui teks-teks sakral tafsir ini diklaim mencapai tingkatan tertinggi. Tetapi apakah dengan bukti adanya kejelasan yang didapat melalui al quran dan al hadits dapat menjamin kejelasan itu pula yang dikehendaki Tuhan? Bukankah Tuhan tidak pernah secara langsung menyatakan bahwa ayat ini adalah kejelasan atas firmanku? Bukankah Rasulullah hanya menjelaskan segelintir ayat-ayat Tuhan dan menyerahkan sisanya kepada para mujtahid.? Jadi apakah semua penafsiran bermetode ma'tsur atau bersumber sakral menjamin penafsiran itu yang dikehendaki Tuhan? Apakah hakikat penafsiran bi'l ma'tsu...