Teori Superioritas Tafsir bi'l ma'tsur


Sebagian besar ulama mutakhir mengklaim superioritas tafsir jenis ini, pandang mereka tak ada alasan bagi seorang penafsir untuk menghiraukannya. Lalu sejatinya apakah tafsir bi'l ma'tsur ini? Sejauh yang kita dapati tafsir jenis ini adalah penafsiran yang mengandalkan kejelasan al quran atau al hadits untuk setiap teks al quran yang hendak ditafsirkan. Dengan dalih kebersumberannya melalui teks-teks sakral tafsir ini diklaim mencapai tingkatan tertinggi. Tetapi apakah dengan bukti adanya kejelasan yang didapat melalui al quran dan al hadits dapat menjamin kejelasan itu pula yang dikehendaki Tuhan? Bukankah Tuhan tidak pernah secara langsung menyatakan bahwa ayat ini adalah kejelasan atas firmanku? Bukankah Rasulullah hanya menjelaskan segelintir ayat-ayat Tuhan dan menyerahkan sisanya kepada para mujtahid.? Jadi apakah semua penafsiran bermetode ma'tsur atau bersumber sakral menjamin penafsiran itu yang dikehendaki Tuhan? Apakah hakikat penafsiran bi'l ma'tsur ini? Lantas siapa empunya pandang? Pandangan Tuhan atau pandangan penafsir itu sendiri?
disinilah kita dipermainkan oleh kata dan kita harus mencermati kata-kata.

Tafsir bi'l ma'tsur secara luas dikenal sebagai penafsiran yang datang dari Tuhan dalam kitabnya, biasanya penafsiran ini muncul persis setelah kata non-mafhum yang disampaikan Tuhan, seperti penjelasan terkait identitas para pentakwa,Tuhan lantas menjelaskan merekalah yang beriman dengan hal gaib, mendirikan salat, Dst. Begitupula dengan penafsiran Rasulullah terkait ayat-ayat tertentu al Qur'an, di sini Rasulullah secara jelas menerangkan bahwa ayat ini seperti inilah maksudnya. pertanyaannya, apakah Tuhan menukil suatu penafsiran? jika iya lantas penafsiran sipakah yang dinukilNya yang membuat penafsiran orang ini menjadi ma'tsur? karena sejak kata ma'tsur mengandung waktu lampau tentu dengan menilik arti bi'l ma'tsur bahwa Tuhan telah menukil perkataan orang lain. tetapi ini tidak mungkin terjadi karena Firmannya lah yang dinukil. begitupun dengan Rasulullah tidak mungkin melakukan hal tersebut kecuali jika dikatakan bahwa beliau telah menukil dari Tuhan. Tetapi karena terdapat bukti bahwa yang disampaikan nabi adalah wahyu Tuhan, menunjukkan pengetahuan nabi tentang yang hendak disampaikan Tuhan, artinya penafsiran yang datang dari Rasul sejatinya adalah penafsiran Tuhan. karena tidak adanya sumber dalam penafsiran ini tetapi merekalah sumber sebenarnya maka tafsir ini tidak dinamakan tafsir bi'l ma'tsur, dan karena tafsir ini telah diyakini keberadaanya atau kebersumberannya dari Allah atau Rasulullah maka penafsiran ini disebut tafsir al ma'tsur. Inilah penafsiran yang mencapai derajat tertinggi. . Dengan adanya kepastian sumber penafsiran ini layaklah ia meraih klaim penafsiran tingkat tinggi karena bagaimana mungkin mengingkari kehendak Tuhan baik yang disampaikannya sendiri atau melalui wasilah Nabi. 
sejatinya tafsir bi'l ma'tsur dilakoni oleh para mujtahid dengan pertolongan akalnya yang profan. Artinya, untuk menemukan firman Tuhan atau sabda Nabi yang secara tidak langsung menjelaskan teks tertentu tidak ada alternatif lain kecuali dengan menggunakan akal. Di sini para penafsir dituntut mencari keserupaan antara ayat yang ingin ditafsiri dengan ayat lain atau hadits yang menurutnya mampu menafsirkan ayat yang ingin ditafsirkannya. Jadi, dalam tafsir bi'l ma'tsur juga ada ijtihad, ada bantuan akal. Dan selama penafsiran ini adalah ijtihad maka tidak ada yang menjamin bahwa itulah yang dikehendaki Tuhan melainkan keyakinan penafsir dengan bukti-bukti yang dimilikinya.

Comments

Popular posts from this blog

Filosofi Battousai

review film da vinci demons

Politik Kyai dalam Kaca-mata Tuan Guru Munajib Khalid