Posts

Politik Kyai dalam Kaca-mata Tuan Guru Munajib Khalid

Image
*Tulisan ini hanya cuplikan dari buku “ Islam Agamaku, Indonesia Kebangsaanku”. Memahami keterlibatan tuan guru/kyai dalam politik praktis Tuan guru adalah panggilan kehormatan bagi seorang tokoh agama Islam di Pulau Lombok. Figure panutan umat Islam ini sangat konsen terhadap berbagai perkembangan dan permaslahan umat. Dari hal-hal bersifat privat sampai hal-hal yang bersifat kenegaraan. Itulah yang menyebabkan akhir-akhir ini pemikiran seorang figure panutan umat ini tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat local saja, bahkan sudah mulai berfikir terhadap hal-hal yang bersifat universal. Itulah sebanya, kita tidak perlu heran dengan banyaknya Tuan Guru yang terjun dalam kancah pollitik praktis karena ini juga merupakan tuntunan ajaran agama Islam yang universal.

Esensi-esensi Hukum

Anzuru Wahyan Q Mengkaji ushul fiqh berarti kita telah masuk ke dalam ruang yang sarat dengan berbagai hukum dan  masalah didalamnya. Hukum yang berarti “khitab (kalam) Allah Swt yang mengatur amal perbuatan mukallaf,” ternyata masih meninggalkan sejumlah pertanyaan yang harus kita tuntaskan. Siapakah sumber dan pembentuk hukum itu? Kepada siapakah hukum tersebut ditujukan? Dan perbuatan apakah yang sebenarnya dihukumkan? Pertanyaan-pertanyaan fundamental tersebut telah mengajak para ulama untuk mengkaji sehingga banyak menimbulkan perdebatan yang cukup hangat di dalam sejarah islam. Tak dapat dipungkiri, perdebatan dan tradisi kritik itulah yang turut andil dalam mencerahkan pemikiran islam. Maka seyogianya bagi kita sebagai pewaris tunggal mereka, membawa kembali masa lalu yang telah memudar di kalangan umat muslim ini. Maka dari itu penulis mengundang para pembaca untuk menjadi bagian dalam “Esensi-esensi fundamental di dalam hukum.”

Mitologi al Qur’an; Pro dan Kontra

Image
Hampir tiada satupun kitab suci suatu agama yang tidak mencantumkan cerita dan epos. Nampaknya kisah-kisah itu memainkan peran signifikan dalam teologi dan perkembangan jurisprudensinya. Hal ini sangat kentara jika merujuk Taurat atau Perjanjian Lama yang sejumlah besarnya dialokasikan untuk informasi sejarah dan riwayat hidup nabi-nabi bangsa Israel pra nabi Musa As dan setelahnya. Sebab itu, memahami Yahudi sebagai suatu kepercayaan takkan terwujud tanpa membaca terlebih dahulu sejarah dan riwayat hidup bangsa Yahudi itu sendiri karena pada kenyataannya teologi Yahudi adalah kompilasi dan konklusi dari peristiwa-peristiwa yang menemani kehidupan bangsa tersebut. [1]

Mukjizat al Qur'an; Stabilisasi dan Varian

Image
Setiap muslim, yang mengaku muslim, dan sebagian yang bukan muslim pasti mengenal al Qur’an. Kitab suci agama Islam tersesbut diklaim sebagai mukjizat nabi Muhammad Saw yang abadi tak lekang oleh waktu. Semenjak kecil anak-anak Islam telah didoktrin tentang varian mukjizat Rasulullah Saw. beliau diyakini telah dianugerahkan Tuhan dengan dua varian Mukjizat; mukjizat abadi atau al Qur’an, dan mukjizat temporal atau mukjizat-mukjizat inderawi yang tinggal dongeng belaka. Mukjizat-mukjizat inderawi ini pada umumnya dimiliki oleh setiap nabi dan rasul, tetapi hanya Nabi Saw saja yang diistimewakan dengan mukjizat abadi. Ini adalah suatu kebanggan bagi beliau dan umatnya, jika nabi-nabi lain dianugerahkan mukjizat inderawi, Rasulullah justeru dianugerahkan mukjizat ilmiah, suatu mukjizat yang dapat disadari hanya oleh orang berilmu, mukjizat yang memantik kesaktian akal, mukjizat yang tak terbendung keajaibannya.

Teori Superioritas Tafsir bi'l ma'tsur

Image
Sebagian besar ulama mutakhir mengklaim superioritas tafsir jenis ini, pandang mereka tak ada alasan bagi seorang penafsir untuk menghiraukannya. Lalu sejatinya apakah tafsir bi'l ma'tsur ini? Sejauh yang kita dapati tafsir jenis ini adalah penafsiran yang mengandalkan kejelasan al quran atau al hadits untuk setiap teks al quran yang hendak ditafsirkan. Dengan dalih kebersumberannya melalui teks-teks sakral tafsir ini diklaim mencapai tingkatan tertinggi. Tetapi apakah dengan bukti adanya kejelasan yang didapat melalui al quran dan al hadits dapat menjamin kejelasan itu pula yang dikehendaki Tuhan? Bukankah Tuhan tidak pernah secara langsung menyatakan bahwa ayat ini adalah kejelasan atas firmanku? Bukankah Rasulullah hanya menjelaskan segelintir ayat-ayat Tuhan dan menyerahkan sisanya kepada para mujtahid.? Jadi apakah semua penafsiran bermetode ma'tsur atau bersumber sakral menjamin penafsiran itu yang dikehendaki Tuhan? Apakah hakikat penafsiran bi'l ma'tsu...

Autentisitas Mashlaẖah Mursalah

   Sebelum lebih jauh memasuki sesi ini, harus kami pertegas bahwa tidak semua ulama mene-rima pemberlakuan teori ini sebagai salah satu ladang derivasi peraturan jurisprudensi. Mayoritas sarjana muslim memungkiri keberadaannya sebagai salah satu kategori argumentatif, lantaran prasangka bahwa Mashla ẖ ah akan menimbulkan desakralisasi undang-undang agama oleh budak nafsu yang mengobral nama maslahat demi kepentingan pribadi.   sebagian pembenci analogi ( Qîas ), saking bencinya terhadap al-hal berbau opini, tidak segan-segan untuk berkata: “ini ( Mashla ẖ ah Mursalah) invalid, karena ia mengedepankan hawa (nafsu), dan pendapat tanpa bukti.” [1]

Historiografi konstruksi Ka’bah

Para  ulama memiliki sejumlah gagasan berbeda tentang gerangan pendiri ka’bah dan pembangunan perdananya yang dilangsungkan di muka bumi ini, sebagian mengatakan para Malaikat, sebagian lain mengasumskikan Adam AS. [1] Al-qur’an sendiri tidak menjelaskan siapa arsitek pertama Ka’bah itu , karena redaksi  ayat-ayat terkait pembangunan Ibrahim AS jika dikaji lebih lanjut ternyata mengindikasikan bahwa Ibrahim hanya membangun kembali puing-puing serta merenovasi bangunan yang diyakini sebagai masjid pertama itu. Seperti ayat ke 125 dalam surat Al-baqarah “ …Dan kami titahkan kepada Ibrahim dan Isma’il untuk membersihkan rumahku untuk mereka yang tawaf, beriktikaf dan bersembahyang”. Ayat ini menerangkan bahwa Ka’bah telah ada sebelum Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk membersihkannya dari berhala-berhala yang di sembah manusia di tempat berdirinya bangunan itu. [2] Begitupula dengan ayat ke 127 surat al-baqarah “ Dan ketika Ibrahim dan isma’il meninggikan dasar-dasa...