Historiografi konstruksi Ka’bah


Para  ulama memiliki sejumlah gagasan berbeda tentang gerangan pendiri ka’bah dan pembangunan perdananya yang dilangsungkan di muka bumi ini, sebagian mengatakan para Malaikat, sebagian lain mengasumskikan Adam AS.[1] Al-qur’an sendiri tidak menjelaskan siapa arsitek pertama Ka’bah itu, karena redaksi  ayat-ayat terkait pembangunan Ibrahim AS jika dikaji lebih lanjut ternyata mengindikasikan bahwa Ibrahim hanya membangun kembali puing-puing serta merenovasi bangunan yang diyakini sebagai masjid pertama itu. Seperti ayat ke 125 dalam surat Al-baqarah …Dan kami titahkan kepada Ibrahim dan Isma’il untuk membersihkan rumahku untuk mereka yang tawaf, beriktikaf dan bersembahyang”. Ayat ini menerangkan bahwa Ka’bah telah ada sebelum Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk membersihkannya dari berhala-berhala yang di sembah manusia di tempat berdirinya bangunan itu.[2] Begitupula dengan ayat ke 127 surat al-baqarahDan ketika Ibrahim dan isma’il meninggikan dasar-dasar bayt….” menerangkan bahwa Ka’bah telah berdiri sampai ia hancur pada masa Ibarahim maka tugas beliau adalah merenovasi ulang reruntuhan bangunan tua tersebut di atas pondasi-pondasi tempak berpijaknya.[3] Hal ini mudah saja divisualisasikan karena negeri Arab memang merupakan negeri gurun yang sangat keras terhadap bangunan. Pasir seringkali menghancurkan bangunan-bangunan, apalagi waktu itu “semennya” masih berupa tanah, sehinga mudah hancur.[4]

Martin Lings dalam bukunya Mekkah: Sebelum penciptaan sampai sekarang (Mecca: From Before Genesis Until Now) berkata : Isma’il diperkirakan lahir sekitar 2150 SM, dan Ishak lahir satu abad setelahnya. Para ilmuwan islam mengasumsikan bahwa Ibrahim membangun Ka’bah pada tahun 2130 SM. Ka’bah ini diyakini satu milenium (1000 tahun) lebih tua dari kuil Sulaiman yang terletak di Jerussalem yang selesai pada tahun 1007 SM. Karena itulah umat islam percaya bahwa Ka’bah adalah masjid tertua di Dunia.[5]
Pendapat ini[6] sesuai dengan firman Tuhan dalam Qur’an surat Ali-imran ayat 96 “Sesungguhnya rumah pertama yang dijadikan Allah sebagi tempat peribadatan adalah yang terletak di kota Mekah …” Juga dalam sabda Nabi Saw, Syaikhan meriwayatkan : Dari Abu zar RA: beliau bertanya kepada Rasulullah SAW tentang rumah manakah yang pertama dijadikan tempat beribadah. Beliau bersabda: Masjid al-haram kemudian Bait al-maqdis. Lalu berapa lama jarak di antara keduanya? Beliau menjawab: empat puluh tahun. [7]
Al-alusi dalam tafsirnya berkata: Terdapat kejanggalan pada hadis tersebut karena alenia antara Ka’bah yang dibangun Ibrahim dengan Al-aqsha yang dibangun Daud dan Sulaiman sangatlah jauh sekali yang tentu lebih lama dari empat puluh tahun. Beliau (Al-alusi) menjawab dengan pendapat yang dikatakan At-thahaawi: Bahwa meletakkan (al-wadh’u) bukan membangun (al-bina’), dan pertanyaan tersebut bukan tentang jarak pembangunan keduanya, akan tetapi jarak kapankah keduanya diletakkan ( baca: Dijadikan tempat ibadah). Karena bisa jadi Al-aqsha telah di jadikan tempat ibadah oleh sebagian Nabi-nabi sebelum Nabi Daud dan Sulaiman, kemudian mereka berdualah yang mengkonstruksi bangunannya.[8]


·         Intervensi manusia dalam rekonstruksi Ka’bah

Beberapa historikus islam dan komentator qur’an galibnya akan menulis peran Malaikat dalam histori pembangunan Ka’bah sebagai peletak batu pertama. Sebut saja Al-arzaqi dalam Akhbar makkahnya, Bagawi dalam tafsirnya, dan Nawawi dalam tahzib asma’ wa al-lugaat.[9] Ibnu katsir berkata: Hadits tentang pembangunan malaikat dipandang sebagai hadis gharib. Beliau tidak menjelaskan tentang unsur keanehannya apakah berasal dari sanad atau ma’nanya, yang jelas beliau mengkategorikan hadis ini ke dalam isra’iliyat yang tak perlu dibenarkan atau sebaliknya.[10] Karena itulah penulis merasa tidak perlu mencantumkannya berdasarkan tidak ada bukti yang valid atas legenda tersebut, sebab ia tidak lain kecuali cerita rakyat yang kecil kemungkinan untuk menjadi sejarah.

Lalu bagaimana dengan Adam?. Sebagai Manusia pertama tentu Adam memiliki keterkaitan dengan rumah pertama itu, ia dikisahkan membangun Ka’bah sebagai penebus atas dosa yang telah diperbuatnya. Hal ini juga diperkuat oleh mayoritas ilmuwan islam baik Mu’arrikh seperti Arzaqi dan Ibnu katsir, Mufassir seperti Ibnu jarir Ath-tabari dan Ar-razi , serta Muhaddits seperti Ibnu hajar dalam Fathul bari.[11] Alusi berkata: Sebenarnya atsar ini tidak benar(baca: sahih), banyak ahli cerita menerangkan tentang materi rumah ini(Ka’bah), lama dan bahrunya, terbuat dari apa pintunya, berapa kali adam berhajji kesana dan banyak lagi hal-hal yang tak dikandung al-qur’an maupun hadis shahih, bahkan sebagian cerita tidak sesuai dengan yang lain karena mereka telah biasa menukil cerita yang tertukar dari mulut ke mulut yang lain(cerita rakyat).[12] Dapat kita lihat, Alusi ternyata menganggap cerita-cerita implisit terkait Ka’bah yang dibangun Malaikat, Adam, ibrahim tidak lebih dari seonggok hoax. Alusi melanjutkan “jika legenda itu berasal dari Tuhan, tentu dongeng tersebut adalah sederet dari kode dan petunjuk. Oleh karena itu, turunnya Ka’bah pada era Adam menunjukkan penampakan alam dunia dan akhirat serta pengetahuan tentang dunia Cahaya dan dunia kegelapan. . .[13]

Adapun rekonstruksi Ibrahim tentu menjadi peristiwa terkuat yang telah mendapat persetujuan dalam konsensus para ilmuwan. Bagaimana tidak, fenomena tersebut telah disebutkan dalam banyak tempat yang dapat ditemui dalam Al-qur’an, salah satunya “Dan ketika Ibrahim dan isma’il meninggikan dasar-dasar bayt”[14]  beberapa literatur menyebutkan bahwa Ibrahim membangun Ka’bah dengan Isma’il sebagai asisten yang mengaduk pasir dan mengambil batu sebagai komposisi rumah Tuhan itu. Azraqi meriwayatkan bahwa bagian terakhir Ka’bah yang belum terisi adalah bagian tempat dimana nantinya ‘Hajar aswad’ ketika Isma’il sibuk mencari batu, ternyata Jibril telah membawakan kepada Ibrahim sebongkah batu yang nantinya bakal dikecup semua ummat.[15]

Ka’bah sampai masa Nabi Muhammad Saw telah melewati banyak keruntuhan dan beberapa renovasi, renovasi kaum Jurhum, renovasi bangsa Amaliqa, renovasi Qusay bin Kilab buyut Rasulullah Saw, dan renovasi kakek beliau Abdul mutalib. Nabi Saw sendiri sebelum naik pangkat kenabian telah menemukan renovasi pula, yaitu renovasi yang dibina oleh suku Quraisy. Peristiwa itu adalah ketika nabi berperan sebagai sang pahlawan yang mampu mendamaikan setiap marga dengan budi pekerti dan sorbannya.[16]


Signifikansi Ka’bah sebagai destinasi salat
Kiblat adalah arah umat islam ketika melakukan salat yaitu Ka’bah yang ada di kota Mekah.[17] Term Kiblat disebut sebanyak lima kali di dalam Al-qur’an,[18] salah satunya terdapat pada ayat ke 144 surat  Al-baqarah, Tuhan bersabda: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arahnya.” Pada dasarnya menghadap kiblat dalam wacana fikih merupakan syarat yang tidak dapat ditawar-tawar, kecuali dalam beberapa hal. Pertama, bagi mereka yang dalam keadaan ketakutan, keadaan terpaksa, keadaan sakit berat…. Kedua, mereka yang salat Sunnah di atas kendaraan.[19]
Di zaman  sekarang, menentukan arah kiblat bukanlah suatu hal yang sulit, sebab telah banyak alat penunjuk arah kiblat diperjual-belikan orang, bahkan banyak pula tikar salat dibuat lengkap dengan alat penunjuk arah kiblat.[20] Adapun dalam mengukur arah kiblat, pada saat ini metode yang sering digunakan ada dua macam, yakni : (1) Memanfaatkan bayang-bayang kiblat dan (2) memanfaatkan arah utara geografis (true north).[21] Selain itu kiblat juga dapat diketahui dengan Rasdu al-Qiblah, yaitu posisi matahari di atas Ka’bah. Hal ini akan terjadi ketika lintang Ka’bah sama dengan deklinasi matahari, pada saat  itu matahari berkulminasi tepat di atas Ka’bah. Dengan demikian arah jatuhnya bayangan benda yang terkena Cahaya matahari itu adalah arah kiblat. Dalam satu tahun akan ditemukan dua kali posisi matahari di atas Ka’bah. Kesempatan tersebut dating pada setiap tanggal 27 Mei atau 28 Mei pukul 11.57 LMT dan tanggal 15 juli atau 16 juli pukul 12.06 LMT. [22]

Rumah tua di poros Bumi

Ka’bah pusat peribadatan kaum muslimin terletak di kota suci Mekah, Ka’bah telah ada sebelum Islam  sebagai pusat keagamaan. Nabi Ibrahim dan putranya Ismail diyakini sebagai pendiri bangunan aslinya. Inti bangunan “segi empat” adalah batu hitam (al Hajar al Aswad). Pada 630 (8 H) sebagai pusat peribadatan dan kiblat umat Islam, ia menjadi sentral  dalam berbagai aspek kehidupan umat termasuk keagamaan, sosial dan politik, keilmuan. Harun ar Rasyid (w 809/193H) menulis wasiat buat kedua anaknya Amin dan Makmum di dinding Ka’bah. Di zaman modern berbagai penguasa muslim berupaya memanfaatkan kekuasaan mereka atas Kabah guna memenangkan simpati umat Islam secara luas. Jadi Kabah sebagai suatu tempat berkumpul beragam bangsa, Kabah dengan Mesjid Al Haramnya menjadi tempat strategis dan populer bagi penyebaran ilmu dan pelajaran agama.[23]

Tertulis dalam buku Ensiklopedia islam (Encyclopedia of Islam), Wensinck mengidentifikasi Mekah dengan tempat bernama Makoraba yang disebutkan oleh Ptolemus, dan sekitar abad ke-3 SM ditemukan sebuah peta yang menunjukkan bahwa Macoraba adalah Mekah.[24]

Pernyataan-pernyataan di atas sedikit tidak memberi kita gambaran bahwa ka’bah pernah menjadi sentral budaya, agama, dan sejarah. Adapun tentang Ka’bah sebagai pusat galaksi akan kami singgung setelah pariwara berikut ini. Kami akan mengemukakan argumen yang cukup kuat agar kami tidak dituduh sebagai siswa yang mengada-ada dalam tulisan ilmiah yang wajib dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Zaglul Najjar[25] mengasumsikan bahwa ka’bah adalah pusat bumi. Tidak hanya itu, tanpa ragu beliau bahkan menyatakan bahwa Ka’bah yang terletak di Mekkah adalah rumah pertama di Dunia dan pusat Galaksi. Pendapat ini dia pertegas dengan beberapa ayat dan hadits yang memperkuat asumsinya dan membuat hal tersebut menjadi sebuah fakta. Salah satu ayat tersebut adalah ayat ke 96 surat Ali Imran. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya rumah pertama yang diletakkan untuk manusia adalah yang berada di Bakkah…” Prof Zaglul mengomentari ayat ini: Para Mufassir berbeda pendapat tentang apakah Kabah adalah rumah pertama atau rumah ibadah pertama.? Kiranya perbedaan ini menjadi reda dengan adanya sebuah hadis sahih dari Nabi yang berbunyi: “Ka’bah dulunya adalah sebuah tebing di atas permukaan air, dan bumi kemudian dibentangkan dari bawahnya.”[26] Tegasnya, hadis ini oleh para ilmuwan hadis dianggap sebagai hadis yang aneh (Gharib) karna ia muncul pada waktu dan tempat minimnya bahkan tidak ada sedikitpun pengetahuan tentang geologi maupun geografi. Sedangkan ditilik dari sanad yang dilewati hadits tersebut ulama hadits mengatakan sah.[27]

Dapat kita lihat bahwa hadits tersebut menunjukkan bahwa Ka’bah adalah rumah pertama di dunia. Lalu bagaimana dengan poros Bumi???. an-Najjar melanjutkan pendapatnya; Nabi Saw bersabda: “Al-Haram adalah tanah suci tepat ditengah tujuh petara langit dan lapis bumi.”[28] Hadits ini menurut an-Najjar mengandung pengertian bahwa Ka’bah merupakan poros atau sentral alam semesta. Alqur’an selalu membandingkan antara langit dan bumi, meski bumi relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan kebesaran langit. Dan perbandingan ini tidak mungkin dilakukan jika bumi memiliki posisi istimewa di pusat semesta.[29]

Anehnya, asumsi ini tidak hanya di anut oleh Zaglul seorang. Beberapa ilmuwan kuno islam seperti Al-Qusyairiy dalam Lathaif al-isyarat, dan Al-Baqa’iy dalam Nazm ad-dhurar menafsirkan ayat ke 7 surat As-syura. Tuhan berfirman: ”Dan begitupula kami telah mewahyukan al-qur’an kepadamu, dalam Bahasa Arab untuk mengingatkan penduduk Ummul qura dan sekitarnya serta seluruh umat manusia….” Ummul qura adalah mekah, didalamnya terdapat Bait al-‘atiq (Rumah Tua), dan dunia (Bumi) dipandang sebagai sekitar Mekah yang melambangkan poros Bumi…..Ummul Qura atau Mekah  adalah induk Bumi (umm al-ard) dan pangkalnya. Darisanalah dakwah islam dimulai, dan  orang sekitarnya (man haulaha) adalah semua penduduk Bumi. Al-bagawi dalam tafsirnya berkata: kota Bumi semua. Al-qusyairi berkata: Alam mengelilingi Ka’bah dan mekah karna ia adalah pusar (surrah) Bumi.[30]


[1] Selengkapnya: tafsir Durar al-mantsur karangan imam Sayuti tentang penafsiran surat al-baqarah ayat 127.
[2] Karena pembersihan tak mungkin terlaksana jika bangunan yang dibersihkan belum ada.
[3] Al-qur’an bil qur’an, DR. Abdul Karim Khatib, vol 2, hal 534
[4] Nurcholis madjid, Fat soen, Hal 55, penerbit Republika.
[6] Pendapat bahwa ka’bah adalah rumah ibadah pertama.
[7] Sahih Bukhari, hadis ke 3425 kitab cerita para nabi, Bab firman Tuhan ”Dan kami anugerahkan kepada Dawud dan Sulaiman”. Sahih Muslim, hadis ke 520, tema masjid-masjid adalah tempat salat.
[8] Al-alusi, ruh al-ma’ani, vol 4, hal 4-5, dar ihya at-turats al-‘arabi. Beirut.
[9]  Selngkapnya: Husein Abdullah salamah, tarikh al-ka’bah al-mua’dzzamah, hal 19-23.                               
[10] Ibid 23.
[11] Selengkapnya: tarikh al-ka’bah al-mua’dzzamah, hal 23-28.
[12] Shihabuddin al-alusi, ruh al-ma’ani, vol 1, Hal 384, dar ihya’ at-turats al-‘arabiy. Beirut.
[13] Ibid.
[14] Surat al-baqarah  ayat ke 127.
[15] Lihat akhbar Makkah, hadits ke 63 dengan sanad hasan, hal 108-109.
[16] Dapat anda lihat salah satu buku tentang perjalanan beliau Saw.
[18] Al-baqarah 142/143/144/145, yunus 87.
[19] Dr. Susiknan azhari, Ilmu falak, hal 40, cet 2, 2007, Suara Muhamadiyah.
[20] Ibid.
[21] Ibid 45.
[22] Ibid 53.
[23] Prof. DR. Harun Nasution, Ensiklopedia Islam Indonesia, Jakarta: Djambatan,1992. h.503-504.
[24] Pendapat ini ditentang oleh Patricia clone dengan menyatakan bahwa Makoraba yang disebutkan ptolemus bukan Mekkah tetapi sebuah kawasan yang terletak di selatan Saudi yang sekarang dikenal dengan Arabia Felix (Yaman). Selengkapnya (http://en.wikipedia.org/wiki/Kaaba/5:11 PM/1/22/2015.)
[25] Zaglul najjar adalah seorang professor ahli sains mencakup geologi, astronomi, zoology, dan tafsir-hadits. Beliau berkebangsaan Mesir, lulus pada tahun 1955 di Universitas Kairo sebagai orang pertama yang menyandang sarjana (Bachelor) jurusan geologi dengan nilai tinggi. Tahun 1963 menjadi Doktor di Universitas Wales Britania. Uniknya, beliau selalu menegaskan bahwa ayat-ayat quran maupun hadits terkait fenomena alam takkan mampu dipahami secara benar jika hanya mengandalkan Bahasa saja, tetapi dengan penemuan-penemuan modern yang telah teruji secara ilmiah yang akan memudahkan kita dalam mencakup kandungan saintis Wahyu yang telah muncul sejak lama dan dibuktikan pada akhir-akhir periode ini. 
[26] Hadis dengan redaksi berbeda tetapi masih tema yang sama dapat anda temukan dalam kitab Akhbar Makkah milik Al-azraqi, hadis pertama pada bab pertama dengan isnad yang valid.  Ka’ab al-ahbar berkata: Ka’bah dahulunya adalah buih di atas air empatpuluh tahun sebelum Allah Swt menciptakan langit dan Bumi, dan Bumi dibentangkan darinya.
[27] Selengkapnya: Treasure in the Sunnah, a scientific approach, hadith 3, the Ka’bah: a hill on the surface of water, hal 13, vol 2, Al-falah foundation, Nasr city, Cairo, Egypt.
[28] Dalam bukunya beliau mengatakan hadis ini dinukil dari kitab shu’ab al-iman milik bayhaqi dengan Mujahid sebagai perawinya, Bab cerita Makkah (Akhbar Makkah).
[29] Ibid. Hal 16.
[30]Muhammad abdul bashir hudairy, Muqaddimaat fiy an-nadzm al-islamiyah, Hal 234, diktat term 1, tingkat 1, fakultas ushuluddin tahun 2012/2013.

Comments

Popular posts from this blog

Filosofi Battousai

review film da vinci demons

Politik Kyai dalam Kaca-mata Tuan Guru Munajib Khalid