Posts

تعدي الفعل ولزومه

    علامة الفعل المعدى أن تصل # ها غير مصدر نحو عمل Tanda fi'il mutaaddi adalah ketika ia dapat disambung dengan dhamir ha' yang bukan ha' masdar (tapi ha' maf'ul bih) seperti fi'il عمل (زيد الخير) .   فانصب به مفعوله إن لم ينب # عن فاعل نحو تدبرت الكتب Nashabkanlah dengan fi'il mutaaddi mafu'lnya ketika ia tidak menjadi na'ibul fa'il, seperti: تدبرت الكتب   ولازم غير المعدى وحتم # لزوم أفعال السجايا كنهم Adapun fi'il lazim adalah yang bukan mutaaddi. Dan fi'il ini dipastikan ada pada fi'il-fi'il/ kata kerja yang mengandung makna watak seperti: نهم / gembul).   كذا افعلل والمضاهي اقعنسس # وما اقتضى نظافة أو دنسا Begitupula pada fi'il yang berwazan افعللَ (seprti اقشعرّ / menggigil) dan seperti اقعنسس / terlambat (wazan افعنلل ), atau fi'il-fi'il yang menunjukan makna kebersihan ( طهر ), atau kekotoran ( دنس ).   أو عرضا أو طاوع المعدى # لواحد كمده فامتدا Atau yang menunjukan aradh/aksiden (...

Paradoks hukum agama

Kajian Ushul fiqh itu ada dua metode: mutakallim, pembahasannya adalah menguji teori2 Ushul sehingga ia sesuai dengan logika dan teks-teks agama meski dalam penerapannya tidak sesuai dengan praktek yang dikemukakan perintis Mazhab. Kemudian ada metode fuqoha, yang mencoba menyaring pembahasan-pembahasan praksis yang ditinggalkan perintis Mazhab guna menemukan kaedah dari proses tersebut, sebab itu kaedah yang mereka temukan harus sesuai dengan praksisnya. Ada juga metode ketiga, yang berupaya melakukan sintetis atas kedua metode tersebut. Bahkan ada metode keempat yang membahas kajian baru yaitu kajian maslahah. Para ulama yang menggunakan metode mutakallim ini kebanyakan aktivitas mereka adalah berdebat. Jika tidak ada lawan debat, maka mereka mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat berlawanan dengan klaim mereka. Hal ini untuk mewujudkan tujuan sebelumnya, yaitu memantapkan kaedah dan teori yang mereka usung. Oleh karena itu, untuk melancarkan misi tersebut, sebelum mer...

إشتغال العامل عن المعمول

    إن مضمر اسم سابق فعلا شغل # عنه بنصب لفظه أو المحل Jika sebuah dhamir, yang merujuk kepada isim yang telah disebut sebelum fiil, menyibukkan fi'il tersebut (sehingga ia tak bisa memberi pengaruh pada isim yang disebut sebelumnya) dengan menasabkan lafaznya (seperti : زيدا ضربته ), atau mahallnya (seperti: زيدا مررت به ).  

النائب عن الفاعل

    ينوب مفعول به عن فاعل # فيما له كنيل خير نائل Ketika maf'ul mengganti posisi fa'il, ia juga mendapatkan hak-hak fai'l (yaitu diberi harkat marfu', harus disebut setelah amilnya, dan tidak boleh dibuang) seperti pada contoh: نيل خير نائل .   فأول الفعل اضممن والمتصل # بالآخر اكسر في مضي كوصل maka huruf pertama fi'il harus diberikan harakat dhammah, dan apabila ia fi'il madhi maka huruf yang berada sebelum huruf terakhir diberi harakat kasrah seperti pada fiil: وُصِل .   واجعله من مضارع منفتحا # كينتحى من المقول ينتحى Adapun pada fi'il mudhari', maka huruf sebelum akhir itu harus diberi harakat fathah, seperti pada contoh: ينتحى .   والثاني التالي تا المطاوعة # كالأول اجعله بلا منازعة Jika fi'il mabni li'l mafu'l itu diawali oleh huruf ta' muthawa'ah maka huruf pertama dan keduanya diberi harakat dhammah, seperti pada contoh: تُدُحرِج . وثالث الذي بهمذ الوصل # كالأول اجعلنه كاستحلي Huruf ketiga yang diawal...

الفاعل

    الفاعل الذي كمرفوعي أتى #   زيد منيرا وجهه نعم الفتى Fa'il adalah dua isim marfu' (yang dirafa'kan oleh fi'il atau syibh fi'il) seperti pada contoh: ata zaidun (dirafa'kan dengan harakat zahir oleh fi'il mutasarrif), munîran wajhuhu ( wajhu dirafa'kan oleh syibhu'l fi'il yaitu isim fa'il), ni'ma'l fata ( alfata dirafa'kan dengan harakat taqdir oleh fi'il ghair muasarrif)   وبعد فعل فاعل وإن ظهر   #   فهو وإلا فضمير   استتر Fi'il itu membutuhkan fa'il, dan fai'l itu posisinya wajib setelah fi'il, dan jika fa'il berupa isim zahir maka tidak diperlukan fa'il lain dari isim dhamir, dan jika isim zahir tiada maka fa'ilnya mustatir (tersembunyi di dalam fi'il)   وجرد الفعل   إذا ما أسندا # لاثنين أو   جمع كفاز الشهدا Kosongkanlah fi'il (dari tanda jamak dan mutsanna) jika ia disematkan kepada mutsanna dan jamak seperti فاز الشهداء وقد يقال سعدا وسعدوا   # والفعل للظاهر بعد ...

أعلم وأرى

    إلى ثلاثة رأى وعلم   # عدوا إذا صار أرى وأعلم Jadikanlah fi'il ra'a (melihat) dan 'alima (mengetahui) membutuhkan tiga maf'ul ketika keduanya menjadi arâ dan a'lama (keduanya dimasuki hamzah ta'diyah) وما لمفعولي علمت مطلقا # للثاني والثالث أيضا حققا Berikanlah kepada maf'ul kedua dan ketiga tersebut hak-hak yang dimiliki kedua maf'ul fi'il 'alimtu (yaitu: keduanya yang sebelumnya merupakan mubtada' dan khabar. Bolehnya ilgha dan ta'liq. Dan keduanya boleh dibuang ketika ada dalil) وما تعديا لواحد بلا # همز فلاثنين به توصلا Kedua fi'il ( ra'a dan 'alima) yang muta'addi kepada satu fi'il sebelum dimasuki hamzah ( ra'a yang berarti abshara dan 'alima yang berarti mengenal ), maka masuknya hamzah hanya menjadikan keduanya muta'addi kepada dua maf'ul. والثاني منهما كثاني اثني كسا # فهو به في كل حكم ذو انتسا Maf'ul kedua dari kedua fi'il itu persis seperti maf'ul kedua dari fi...

Bab LA

    عَمَلَ إنَّ اجْعَلْ لِلاَفِي نَكِرَهْ مُفْرَدَةً جَاءَتْكَ أوْ مُكَرَّرَهْ Berikanlah amalan INNA kepada LA yang menafikan nakirah baik ia disebut sekali saja atau berulang kali. فَانْصِبْ بِهَا مُضَافًا أوْ مُضَارِعَهْ وَبَعْدَ ذَاكَ الْخَبَرَ اذْكُرْ رَافِعَهْ Nashabkanlah dengannya (isim la) baik berbentuk mudhaf, atau syabih bil mudhaf, lalu kemudian sebutkanlah khabar (la) yang dirafa'kan olehnya. وَرَكِّبِ الْمُفْرَدَ فَاتِحًا كَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ وَالثَّانِ اجْعَلا Jika la disebut berulang kali maka isim yang berada setelah la kedua memiliki tiga kondisi: pertama: mabni ala fath مَرْفُوعًا أوْ مَنْصُوبًا أوْ مُرَكَّبًا وَإِنْ رَفَعْتَ أوّلًا لاَ تَنْصِبَا Kedua: marfu', ketiga: mansub. Dan apabila isim la pertama dirafa' maka isim la kedua tidak boleh dimansub. وَمُفْرَدًا نَعْتًا لِمَبْنىٍّ يَلي فَافْتَحْ أَوِ انْصِبَنْ أوِ ارْفَعْ تَعْدِلِ Jika terdapat na'at mufrad setelah isim la yang mabni fatah, maka naat tersebut bis...