تعدي الفعل ولزومه

 

 

علامة الفعل المعدى أن تصل # ها غير مصدر نحو عمل

Tanda fi'il mutaaddi adalah ketika ia dapat disambung dengan dhamir ha' yang bukan ha' masdar (tapi ha' maf'ul bih) seperti fi'il عمل (زيد الخير).

 

فانصب به مفعوله إن لم ينب # عن فاعل نحو تدبرت الكتب

Nashabkanlah dengan fi'il mutaaddi mafu'lnya ketika ia tidak menjadi na'ibul fa'il, seperti: تدبرت الكتب

 

ولازم غير المعدى وحتم # لزوم أفعال السجايا كنهم

Adapun fi'il lazim adalah yang bukan mutaaddi. Dan fi'il ini dipastikan ada pada fi'il-fi'il/ kata kerja yang mengandung makna watak seperti: نهم/ gembul).

 

كذا افعلل والمضاهي اقعنسس # وما اقتضى نظافة أو دنسا

Begitupula pada fi'il yang berwazan افعللَ (seprti اقشعرّ/ menggigil) dan seperti اقعنسس/ terlambat (wazan افعنلل), atau fi'il-fi'il yang menunjukan makna kebersihan (طهر), atau kekotoran (دنس).

 

أو عرضا أو طاوع المعدى # لواحد كمده فامتدا

Atau yang menunjukan aradh/aksiden (مرض، احمر) atau fi'il yang menunjukkan reaksi dari fi'il mutaaddi (muthawa'ah) ke satu maful seperti : مده فامتد (ia memanjangkannya maka iapun memanjang).

 

وعد لازما بحرف جر # وإن حذف فالنصب للمنجر

Jadikanlah fi'il lazim itu mutaaddi dengan menambahkan huruf jar pada mafu'lnya. Dan jika huruf jar ini dibuang, maka maf'ul itu pun dinashabkan.

 

نقلا وفي أن وأن يطرد # في أمن لبس كعجبت أن يدو

Pembuangan huruf jar ini hanya diketahui melalui riwayat. Adapun pada mafu'l yang berbentuk masdar muawwal/ أن dan أنَ , huruf jar boleh dibuang ketika tidak dikhawatirkan kesamaran seperti: عجبت أن يدو ( asalnya adalah عجبت من أن يدو / aku kagum dari pemberian diatnya. Begitupula pada contoh: عجبت أنك قائم/ من أنك).

 

والأصل سبق فاعل معنى كمن # من ألبسن من زاركم نسج اليمن

Yang biasa adalah mendahulukan maf'ul yang mengandung makna fa'il seperti من  dalam contoh: ألبسن من زاركم نسج اليمن / pakaikanlah kepada siapa yang mendatangi kalian pakaian Yaman (من  adalah orang yang mengambil pakaian, oleh sebab itu ia disebut lebih dahulu).

 

ويلزم الأصل لموجب عرى # وترك ذاك الأصل حتما قد يرى

Dan kebiasaan itu (mendahulukan maf'ul yang mengandung makna fa'il) wajib ketika terdapat sesuatu yang mengharuskannya (yaitu dikhawatirkannya kesamaran seperti: أعطيت زيدا عمرا).

Dan terkadang berlainan dari itu (mafu'l yang bermakna fa'il diakhirkan) diharuskan (seperti: أعطيت الدرهم صاحبه. Agar dhamir tidak kembali pada sesuatu yang disebut setelahnya.)

 

وحذف فضلة أجز إن لم يضر # كحذف ما سيق جوابا أو حصر

Membuang fadhlah (kata yang tidak begitu dibutuhkan seperti mafu'l) itu boleh jika tidak berbahaya seperti membuangnya pada konteks menjawab pertanyaan ( من ضربت ؟ ضربت زيدا ) atau pembatasan (ما ضربت إلا زيدا maka fadhlah tak boleh dibuang).

 

ويحذف الناصبها إن علما # وقد يكون حذفه ملتزما

Jika amil yang menashabkan fudhlah itu dapat diketahui (karena ada dalillnya), maka ia boleh dibuang (من ضربت؟ زيدا). Dan terkadang amil itu wajib dibuang (seperti pada bab isytigal: زيدا ضربته أي ضربت زيدا ضربته).

 

Comments

Popular posts from this blog

Filosofi Battousai

review film da vinci demons

Politik Kyai dalam Kaca-mata Tuan Guru Munajib Khalid