Mesir kuno; Akhnaton dan Tauhid Aton
Abad ke 13 pra kelahiran Yesus, dinasti ke-18 dalam silsilah raja-raja Mesir, tepat ketika era bangsa lama telah digantikan bangsa baru, Amnihotep IV putra dari Amnihotep III mendapatkan wewenang untuk menjadi sekutu ayahnya, dan berdomisili di sebuah daerah yang bernama Thebes. Posisi yang dia terima ini membuat Amnihotep IV berani merancang suatu gagasan untuk menyembah sang Matahari, dan Aton sebagai perlambang daya sakti yang terpendam dalam buntalan surya adalah salah satu manifestasi dari Tuhan yang telah dipatenkan Amnihotep IV.
Awalnya, Amnihotep IV adalah seorang
yang hormat kepada para dewa lain, terutama dengan hal-hal yang berbau ritual
penyembahan dewa matahari seperti Ra, Horakhty, dan yang lainnya. Walaupun dia
menyeru untuk menyembah Aton, pada dasarnya Aton bukanlah tuhan yang asing bagi
rakyat Mesir kuno. Aton telah dikenal semenjak era bangsa lama, dan namanya pun
tertulis dalam naskah-naskah piramida yang telah ada satu milenium sebelum
kelahiran Amnihotep IV.
Amnihotep IV tidak memulai dakwahnya
dengan sebuah penyimpangan[1],
dia pun tidak memusuhi para pendeta Amon, dia hanya melancarkan seruan untuk
menyembah dewa Aton dan menganugerah-kannya pangkat yang lebih tinggi dari Dewa
lainnya. Tentu dakwah ini diikuti oleh sejumlah massa baik kalangan elit
petinggi negara maupun masyarakat awam. Ketenaran inilah yang mengusik
ketenangan pendeta-pendeta Amon serta mengancam krisis iman para pengikutnya.
Akhirnya, mereka pun mulai merancang serangan terhadap Kaisar baru ini.
Amnihotep IV menjadi semakin fanatik
dengan doktrin barunya itu, lalu mendeklarasikan tentang evolusi namanya dihadapan
para pendeta Amon, dari Amnihotep IV menjadi Akhnaton yang bermakna Pemberi
Petunjuk bagi Aton.
Kontradiksi dan perpecahan tersebut
membuat Amnihotep III naik pitam. Bagaimana tidak, perpecahan internal dan
pencelaan terhadap Amon tuhan yang telah ia sembah seumur hidupnya; tuhan yang
telah dibangunkannya banyak kuil peribadatan, tidak hanya di Thebes, tetapi
juga dilain tempat seperti Memphis, Nubia, dan Sudan tidak
bisa diterima. Barangkali tiada restu orangtuanya inilah yang membuat Akhnaton
meninggalkan kampung halaman dan bersumpah untuk memerangi Thebes dan menghapus
nama-nama dewa selain Aton.[2]
Agama baru ini juga menawarkan
sederet ideologi baru untuk para pemeluknya, diantaranya; 1) Larangan
menggambarkan tuhan Aton baik dalam bentuk manusia atau hewan. Cukup dengan
bulatan matahari dengan sinarnya yang memberi manusia kehidupan. 2) Aton adalah
tuhan yang esa dan tak ada sekutu baginya, dan haram menyembah dewa-dewa lain.
3) Akhnaton adalah satu-satunya putra Aton, dan orang yang diwajibkan
menyembahnya. Adapun manusia yang lain dapat mengenal Aton melalui ibadah
mereka kepada anak dan rasulnya. Poin inilah yang membingungkan pemeluk agama
ini, apakah dengan matinya Akhnaton agama ini menjadi tamat atau harus
dilanjutkan? 4) Agama Aton bukan hanya untuk Mesir dan penduduknya, tetapi
agama yang bersifat universal, dan bertaraf internasional.[3]
Sejumlah peneliti Barat seperti
Spencer dan Durkheim, menyimpulkan bahwa dakwah Akhnaton dengan agama Aton yang
diserukannya adalah revolusi akidah dari politeisme (Syirk) menuju
monoteisme (Tauhid).[4]
Karena manusia dalam segala bidang hidupnya memiliki potensi untuk berkembang
dan ber-evolusi baik dalam bidang ekonomi, sosial, begitupula akidah.[5]
Dan akidah monoteis yang datang terlambat ini muncul setelah meluasnya
pengetahuan manusia yang mulai sadar bahwa gambarannya tentang kekuatan yang
meliputi segala sesuatu cuma sekedar khayalan, maka dia menganut politeisme
yang berakhir dengan pengesaan tuhan.[6]
Bertahap, pengagungan manusia terhadap unsur-unsur alam yang dikiranya tuhan
menjadi semakin menipis, merekapun mulai mencari daya yang menguasai alam
semesta dan unsur-unsurnya.[7]
Di seberang lain, sejumlah ilmuwan muslim sebaliknya berpendapat; “bahwa Tauhid
adalah fithrah yang dianugerahkan Tuhan untuk manusia.” Hal ini
dipertegas al-Qur’an bahwa bangsa Mesir kuno dari dahulu telah mengenal Tauhid
yang benar, dimulai semenjak kedatangan nabi Ibrahim yang membawa dan menyeru
kepada tauhid. Bukan hanya Ibrahim saja, sejumlah rasul juga turut andil dalam
dakwah menuju tauhid tersebut, sebut saja Yusuf dan Musa. Tetapi rakyat Mesir
kuno telah mendurhakai nabi mereka dan lebih patuh kepada khayalan. Mereka
menyembah manusia, batu, dan hewan. Beranjak dari hal tersebut, ulama muslim
justeru berpendapat bahwa evolusi setiap agama ditandai dengan awal yang baik
dan berakhir dengan buruk – awalnya lebih bagus dari akhirnya --. Hal ini
selaras dengan sabda Nabi Muhammad : “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan
suci (Fithrah), tetapi kedua orang tuanya Lah yang meyahudikannya atau
mengkristenkannya atau memajusikannya.[8]
Teori kedua ini memiliki banyak argumen, diataranya;
1. Al-Qur’an telah mempertegas bahwa sumber agama yang benar
berasal dari Allah Swt. sebagaimana juga dipertegas bahwa beragama adalah watak
dan sifat alami manusia, dan tauhid adalah dasar dari fithrah bergama tersebut.
2. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Yusuf telah mengajak
orang-orang mesir menuju agama Tauhid. Allah Swt. berfirman : ”Sesungguhnya
aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah,
sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku
yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi)
mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari
karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan
manusia tidak mensyukuri (Nya). Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik,
tuhan-tuhan yang bermacam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?
Kamu tidak menyembah selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu
dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun
tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah
memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.[9]
3. Al-Qur’an juga mengaskan bahwa Yusuf telah menyeru
orang-orang Mesir kuno kepada kebenaran. Hal tersebut terbukti pada kisah
seorang mu’min dari anggota keluarga Fir’aun yang telah mendorong kaumnya agar
tidak membunuh Musa. Allah Swt. berfirman: “Dan sesungguhnya telah datang
Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa
dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal,
kamu berkata: “Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya.
Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.[10]
4. Agama monoteis yang dibawa Akhnaton bukan tauhid yang
bersih dan benar seperti yang dibawa oleh para Rasul dan tercantum dalam
kitab-kitab samawi, tauhid yang menegaskan keesaan Tuhan. Tetapi
monoteis yang dibawa olehnya hanya sekedar orientasi kepemimpinan seorang raja
yang ingin memperlihatkan kekuasaanya dengan mewajibakan setiap rakyat untuk
menyembah sesembahannya. Akhnaton membuat berhala-berhala yang banyak menjadi
satu berhala, ia bahkan tidak pernah menyatakan keesaan Allah sehingga kita
dapat berpendapat bahwa akal manusia telah mencapai agama yang sempurna lalu
mengenal tauhid. Tetapi hal tersebut tak berarti bahwa Mesir kuno tidak mengenal agama kecuali politeisme dan
dewa-dewa buatan. Sebagian ilmuwan berpendapat bahwa bangsa Mesir kuno pada
suatu masa telah mengenal agama Allah dan mengesakannya. Karena tak masuk akal
suatu bangsa berperadaban tinggi tidak pernah menemui rasul utusan Tuhan.
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa[11] “Tidak ada suatu umatpun melainkan
telah ada padanya seorang pemberi peringatan.”[12] Dan
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat”.[13]
[1]
Penyimpangaan terhadap tradisi kepercayan Mesir kuno.
[2]
Lihat: Ahmad Fakhri, Mishr al-Fir’auniyah, Maktabah al-Usrah, Kairo. cet
2012. hal 237-238.
[3]
Ahmad Fakhri, op. cit., hal 240-242.
[4]
Hal ini disebut dengan Teori Evolusi.
[5]
Lembaga jurusan Akidah filsafat kuliah Ushuluddin Kairo, Nadzrât fî
al-dayyânât al-Syarqiyah. Hal. 59.
[6] Ibid.
59. Lihat juga: Dr. Jawwad dalam buku Tarikhu’l ‘Arab qabla al-Islaâm, hal
68.
[7] Dr.
Muhammad Khalifah Hasan Ahmad, Târikh al-Dayyânah al-Yahûdiyyah. Dâr
Qubâ’. Kairo. Cet. I. 1998. Hal. 59.
[8] Ibid.
62. Lihat juga: Dr. Muhammad Abd Allah Darrâz, al-din, Hal. 78.
[9] QS.
Yusuf. 37-40.
[10] QS.
Ghafir. 34.
[11] Ibid.
60. Lihat juga: Dr. Hasan al-Huwari, al-Adyân al-Qdîmah. Hal 44-45.
[12] QS.
Fathir. 24.
[13] QS.
An-Nahl. 36

Comments
Post a Comment